Monday, June 4, 2007

Tuesday, May 29, 2007

Impian (dream)

Impian (dream),

“… you may say I am a dreamer, but I am not the only one, I hope some day you will join us, in the world will be as one..”
(imagine – John Lennon)

Impian adalah suatu pengharapan, semua orang “hidup” selalu punya impian, walau kadang cuma selintas, ataupun kalau anda “merasa” tidak punya impian, segera pergilah ke dokter jantung untuk memeriksakan diri anda, apakah masih ada detak jantung di tubuh anda.
Masalahnya sekarang, apakah anda ingin mewujudkan impian itu atau anda akan menghancurkannya. Karena anda pesimis untuk melakukannya.
Untuk edisi bulan ini, kalau ada yang merasa kurang berkenan saya minta maaf, karena ini adalah impian, sesuatu yang hanya bisa dibatasi oleh tingginya langit.


Di tingkat empat kota Semarang (mengenai keaneka ragaman kota ini saya pernah menulis di edisi January-2006 “Pledoi untuk Kotaku”) ada kawasan yang sangat nyaman, yang bagi saya paling nyaman, Banyumanik. Suatu tempat yang membesarkan saya dengan keindahan keanekaragamannya.
Sekolah dasar saya di SD Antonius II, adalah sekolah Katolik yang didirikan di kawasan sebuah gereja. Sebuah gereja kecil waktu itu, walau sekarang sudah berdiri megah, di daerah Banyumanik yang saat itu sedang berkembang. Satu hal yang menarik dari gereja itu, bukan dari bangunannya, tapi dari pemimpin gereja itu sendiri, Kardinal Darmoyuwono (maaf kalau salah spelling), atau kami sering memanggilnya Romo Kardinal.

Kardinal, sepanjang yang saya tahu, adalah suatu jabatan tinggi bagi seorang pemimpin gereja itu sendiri. Tapi yang menarik dari Romo Kardinal, adalah figure yang sangat sederhana, memilih tinggal di gereja kecil dikawasan pinggiran kota Semarang, saat itu, bukan di Jakarta misalnya.
Pribadi yang menyenangkan, bahkan bagi saya yang masih sekolah dasar waktu itu. Kebiasaan beliau yang suka berjalan – jalan menyapa ramah semua orang, tanpa memandang itu umat manapun, menjadi pelajaran berharga bagi pola pikir anak seperti saya.
Orang tua saya yang Muslim, bahkan tak jarang mempersilahkan beliau singgah kerumah kami. Setiap beliau singgah aku selalu duduk di pangkuan bapak untuk sekedar mendengarkan apa yang mereka bincangkan. Kedua orang yang saya hormati itu tidak pernah sekalipun membahas kebenaran agama yang mereka yakini, tetapi membahas budi pekerti dari tingkah laku dengan penggambaran cerita wayang ataupun sejarah kerajaan jawa itu sendiri.

Ada suatu session pertemuan yang membuat saya terkesan, karena keingintahuan saya yang besar.
Selepas Maghrib, masih lengkap dengan kopiah dan sarung, bapak mempersilahkan Romo Kardinal untuk mampir ke rumah, karena kebetulan beliau sedang melewati depan rumah kami.
Seperti biasa saya segera gabung, dan keingintahuan karena melihat hal yang “aneh” di depanku, Romo dengan baju kepastorannya, sedang bapakku masih lengkap dengan kopiah dan sarung, saya secara tiba-tiba bertanya sesuatu hal yang sempat membuat bapak terkejut.

“Romo, kenapa Romo pergi ke gereja, sedang kami ke masjid”. Bapak sempat menyenggol aku seakan ingin menegur.

Tapi, dengan senyum ramahnya, Romo Kardinal memberi jawaban yang sangat berkesan bagi seorang anak kecil seperti saya waktu itu.
“Kamu kalau pergi ke pasar Johar lewat mana,” tanya beliau.
“Saya selalu ikut bapak lewat Tugu Muda, dan saya suka lewat situ,” jawab saya.
“Jadi karena Bapak kamu lewat jalan itu, kamu lewat juga jalan itu kalau mau ke pasar Johar dan kamu juga senang lewat situ,” kata Romo Kardinal. Saya mengangguk sambil tersenyum.
“Kalau Romo lebih senang lewat Peterongan, tapi yang pasti tujuannya sama, sama – sama ke Pasar Johar. Jadi kalau Bapak kamu ke masjid, atau Romo ke gereja, itu hanya jalannya saja yang beda, tapi tujuannya sama, Tuhan, bagaimana sudah paham”.
Bapak yang segera menjawab,” matur nuwun sanget (terima kasih banyak) Romo”.
Dengan senyum ramahnya, Romo berkata,”Manusia kan harus saling mengingatkan, bahwa jalan hidup kita masing – masing itu sudah ditentukan oleh Tuhan, urip kuwi mung sadermo nglakoni (hidup itu adalah hanya darma/kewajiban yang harus dijalankan)”.

Setelah saya besar, bapak juga selalu menekankan pada kami,
Janganlah kalian terus berpikir tentang benarnya kebenaran jalan hidup kalian, takutnya pikiran itu akan membuat kalian menjadi menyalahkan kebenaran jalan hidup orang lain. Yang bijaksana adalah, tingkatkan kualitas kehidupan kita dalam mengikuti kebenaran jalan hidup kita, maka kita akan bersyukur yang sebesar-besarnya atas ”perbedaan-perbedaan” yang Tuhan ciptakan. Perbedaan-perbedaan yang akan membuat kita kaya jasmani dan rohani.

Bahkan pendiri bangsa ini sendiri, para founding father (karena kebanyakan laki-laki), sudah berpikir ke arah sana,
Kenapa Sukarno tidak ingin mendirikan negara Jawa, Hatta dan Syahrir dengan Negara Sumateranya, atau Ratulangi misalnya dengan negara Celebesnya. Karena mereka paham bahwa perbedaan yang nampak di mata di bumi nusantara, adalah suatu kekayaan yang tidak ternilai karena begitu besarnya.
Bagi anda penyuka sejarah, tentu masih ingat Piagam Jakarta, embrio dari UUD 1945 itu sendiri. Ada kata-kata ”menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya....”, yang kemudian di hapus dari UUD 1945, dan lebih hebatnya yang minta di hapus adalah Hatta seorang cendekiawan muslim besar, dengan alasan bahwa negara yang akan dibentuk ini adalah negara ”impian” semua manusia yang ada di dalamnya, bukan milik golongan tertentu saja.

Betapa akan menangisnya mereka, tapi saya berdoa mereka semua, tenang di alamnya sekarang, melihat kita sekarang ini.
Saya tidak pesimis, hanya mengungkap fakta, karena saya masih ingat kata – kata Hatta, ”negara ini akan menjadi negara yang jaya, ini bukan masalah ya atau tidak, tapi hanya masalah waktu”.
Betapa fitnah – fitnah besar dinegara ini selalu ditunggangi oleh alasan ”perbedaan”, betapa menunjukan kita belum dewasa dalam berbangsa dan beragama.
PRRI timbul karena adanya perbedaan Perwira Jakarta dan Non-Jakarta, akibatnya rakyat di Sumatera Timur dan Barat menderita perang saudara.
Gerakan 30 September (Sukarno bilang Gestok/Gerakan satu oktober) adalah fitnah yang kejam dengan ”perbedaan” ideologi sebagai alasannya, jutaan nyawa melayang karena ini. Atau yang di era modern sekarang ini, Pembunuhan masyarakat keturunan Tionghoa dalam kerusuhan Mei 1998, Kerusuhan Ambon, hanya karena ulah segelintir orang yang bertikai, ”perbedaan” keyakinan dijadikan alasan untuk mencari dukungan, ribuan orang menjadi korban. Poso juga mengalami hal yang sama, bahkan peristiwa Sampit, membuat kita menangis, melihat mayat – mayat balita tanpa kepala berserakan begitu saja.

Tanpa pesimis juga, sebenarnya negara ini telah menciptakan generasi pendendam. Aceh, Poso, Ambon, bisa meletus 20 tahun lagi kalau penanganan pendidikan budi pekerti tidak di seriusi. Tapi kembali kita ingat ini tugas kita bersama, tekankan budi perkerti untuk menghargai suatu perbedaan, minimal pada diri anda sendiri, maka mudah – mudahan anak – anak anda akan mengikutinya.


Saya masih ingat ketika beranjak remaja, ketika saya meragu, apakah saya harus ikut bapak selaku ketua RW keliling kampung mengunjungi warga kristiani, yang saat itu merayakan hari natal. Saya tidak jadi ikut, karena ada beberapa pemahaman yang saya terima sebelumnya.
Malamnya, bapak dan ibu memanggil saya sendiri, dan tiba – tiba memberi pertanyaan, ” Kenapa kamu Muslim?” sebuah pertanyaan sederhana yang saya tidak bisa menjawabnya. Setelah melihat aku terdiam, beliau berkata ” karena orang tuamu Muslim, benarkan”. Aku mengangguk.
Diteruskan dengan,“Kamu senang menjadi Muslim“, aku mengangguk lagi,“ Kalau begitu bersyukurlah, jadilah seorang muslim yang berkualitas, karena sikap kamu tadi bukan hanya menyalahkan suatu agama tertentu, tapi kamu sudah menyalahkan Tuhan, seakan – akan bahwa ciptaannya itu tidak berguna sama sekali, coba pahami dengan hati bersih, mengapa Tuhan menciptakan semua ini dengan beraneka ragam, itu untuk kebahagiaan manusia sendiri, supaya mereka menjadi kaya batinnya. Di mata Tuhan, kualitas manusia waktu dia hidup yang Beliau nilai“.
Saya cuma terdiam, kata – kata itu begitu terserap di hati, bagaimana saya bisa meningkatkan kualitas kebenaran yang saya ikuti, kalau saya cuma berusaha menyalahkan kebenaran orang lain. Betapa tanpa kualitas kehidupan saya di mata Tuhan.

Mengejar suatu impian selalu penuh hambatan, bahkan impian perdamaian John Lennon terhenti oleh peluru Mark David Chapman,
John Lennon tidak sendirian, Pemimpi – pemimpi perdamaian lainnya banyak yang harus mengorbankan nyawa untuk impiannya, JF Kennedy harus mati diujung peluru, setelah dia menampakan ketidak sukaan terhadap perang dingin antara Amerika dan Uni Sovyet.
Mahatma Gandhi, seorang genius dalam impian atas perdamaian, harus meninggal karena tertembus peluru, dan hebatnya dia minta supaya penembaknya diampuni.
Atau Sukarno, bapak bangsa kita yang bermimpi Nasakom, Nasionalis Agama dan Komunis beriringan, harus rela menderita sebelum meninggal dunia.
Bahkan seorang Yahudi seperti Rabin, ditembak mati karena ide atas perdamaian di timur tengah.

Tapi terlepas dari itu semua, saya pribadi juga punya impian, impian tentang dunia yang lebih indah. Walau mungkin saya harus di cemooh, atau orang menganggap saya orang yang tidak paham agama misalnya. Tapi inilah impian saya, yang bisa membuat saya merasa dekat dengan Tuhan.
Seperti impian saya akan dunia yang lebih baik,
Yang memandang.... putih,kuning,hitam,coklat adalah sebuah warna, ... bukan warna kulit
Yang memandang.... Arab, yahudi, negro, hispanik, aria, melayu adalah sebuah seni keanekaragaman,... bukan sebagai bangsa dengan keunggulan
Yang memandang.... Asia, Amerika, Eropa, Afrika, Australia adalah pelajaran geografi,... bukan benua yang memisahkan kita
Yang memandang.... Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Tao adalah jalan alternatif ke Surga,... bukan sebagai Agama yang lebih benar dari yang lain.

Saya jadi inget sama Ernesto Guevara, atau terkenal dengan sebutan "Che" Guevara,
Jadilah orang yang "romantis" kata si Bung yang satu ini, karena orang yang "romantis" adalah orang yang penuh dengan segala toleransi terhadap segala perbedaan di dunia ini, dia akan menyerahkan segala jiwa raganya untuk dunia yang lebih baik, dunia yang menghargai perbedaan satu sama lain.
Maka jadilah orang yang "romantis", karena walau jasadmu sudah hilang dimakan tanah, orang masih akan selalu terkenang akan jiwamu.

Mari kita tebarkan semangat cinta kasih, toleransi, hormat menghormati, hentikan segala pertikaian yang akan merugikan manusia.
Jangan membuat Tuhan merasa ,“malu“ dihadapan setan, karena betapa kita terus mengikuti keserakahan Setan atas penindasan sesama kita manusia.
Ajarkan pada anak-anak anda, karena mereka pemilik dunia ini, impian tentang dunia yang lebih baik, mudah – mudahan bisa terwujud, bukan cuma di dunia impian.

Setengah jam menjelang adzan Dzuhur

Dari kejauhan mata saya menangkap sosok tua dengan pikulan yang membebani pundaknya. Dari bentuk yang dipikulnya, saya hapal betul apa yang dijajakannya, penganan langka yang menjadi kegemaran saya di masa kecil. Segera saya hampiri dan benarlah, yang dijajakannya adalah kue rangi, terbuat dari sagu dan kelapa yang setelah dimasak dibumbui gula merah yang dikentalkan. Nikmat, pasti.

Satu yang paling khas dari penganan ini selain bentuknya yang kecil-kecil dan murah, kebanyakan penjualnya adalah mereka yang sudah berusia lanjut. "Tiga puluh tahun lebih bapak jualan kue rangi," akunya kepada saya yang tidak bisa menyembunyikan kegembiraan bisa menemukan jajanan masa kecil ini. Sebab, sudah sangat langka penjual kue rangi ini, kalau pun ada sangat sedikit yang masih menggunakan pikulan dan pemanggang yang menggunakan bara arang sebagai pemanasnya.

Tiga jam setengah berkeliling, akunya, baru saya lah yang menghentikannya untuk membeli kuenya. "Kenapa bapak tidak mangkal saja agar tidak terlalu lelah berkeliling," iba saya sambil menaksir usianya yang sudah di atas angka enam puluh. "Saya nggak pernah tahu dimana Allah menurunkan rezeki, jadi saya nggak bisa menunggu di satu tempat. Dan rezeki itu memang bukan ditunggu, harus dijemput. Karena rezeki nggak ada yang nganterin," jawabnya panjang.

Ini yang saya maksud dengan keuntungan dari obrolan-obrolan ringan yang bagi sebagian orang tidak menganggap penting berbicara dengan penjual kue murah seperti Pak Murad ini. Kadang dari mereka lah pelajaran-pelajaran penting bisa didapat. Beruntung saya bisa berbincang dengannya dan karenanya ia mengeluarkan petuah yang saya tidak memintanya, tapi itu sungguh penuh makna.

"Setiap langkah kita dalam mencari rezeki ada yang menghitungnya, dan jika kita ikhlas dengan semua langkah yang kadang tak menghasilkan apa pun itu, cuma ada dua kemungkinan. Kalau tidak Allah mempertemukan kita dengan rezeki di depan sana, biarkan ia menjadi tabungan amal kita nanti," lagi sebaris kalimat meluncur deras meski parau terdengar suaranya.

"Tapi kan bapak kan sudah tua untuk terus menerus memikul dagangan ini?" pancing saya, agar keluar terus untaian hikmahnya. Benarlah, ia memperlihatkan bekas hitam di pundaknya yang mengeras, "Pundak ini, juga tapak kaki yang pecah-pecah ini akan menjadi saksi di akhirat
kelak bahwa saya tak pernah menyerah menjemput rezeki."

Sudah semestinya isteri dan anak-anak yang dihidupinya dengan berjualan kue rangi berbangga memiliki lelaki penjemput rezeki seperti Pak Murad. Tidak semua orang memiliki bekas dari sebuah pengorbanan menjalani kerasnya tantangan dalam menjemput rezeki. Tidak semua orang harus melalui jalan panjang, panas terik, deras hujan dan bahkan tajamnya kerikil untuk membuka harapan esok pagi. Tidak semua orang harus teramat sering menggigit jari menghitung hasil yang kadang tak sebanding dengan deras peluh yang berkali-kali dibasuhnya sepanjang jalan. Dan Pak Murad termasuk bagian dari yang tidak semua orang itu, yang Allah takkan salah menjumlah semua langkahnya, tak mungkin terlupa menampung setiap tetes peluhnya dan kemudian mengumpulkannya sebagai tabungan amal kebaikan.

***

Friday, May 25, 2007

Cara Hidup Kita Sendiri Yang Tau

Seekor belalang lama terkurung dalam satu kotak.Suatu hari ia berhasil keluar dari kotak yangmengurungnya, dengan gembira dia melompat-lompatmenikmati kebebasannya.Di perjalanan dia bertemu dengan belalang lain,namun dia heran mengapa belalang itu bisa lompatlebih tinggi dan lebih jauh darinya.Dengan penasaran dia bertanya, "Mengapa kau bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh dariku,padahal kita tidak jauh berbeda dari usia maupun ukuran tubuh?" Belalang itu menjawabnya denganpertanyaan, "Dimanakah kau tinggal selama ini?Semua belalang yang hidup di alam bebas pasti bisa melakukan seperti yang aku lakukan."Saat itu si belalang baru tersadar bahwa selama ini kotak itulah yang telah membuat lompatannya tidak sejauh dan setinggi belalang lain yang hidup di alam bebas.Sering kita sebagai manusia, tanpa sadar, pernahjuga mengalami hal yang sama dengan belalang tersebut. Lingkungan yang buruk, hinaan, trauma masa lalu, kegagalan beruntun, perkataan teman,tradisi, dan semua itu membuat kita terpenjara dalam kotak semu yang mementahkan potensi kita.Sering kita mempercayai mentah-mentah apa yang mereka voniskan kepada kita tanpa berpikir dalam bahwa apakah hal itu benar adanya atau benarkah kita selemah itu? Lebih parah lagi, kita acap kali lebih memilih mempercayai mereka daripada mempercayai diri sendiri.Tahukah Anda bahwa gajah yang sangat kuat bisa diikat hanya dgn tali yang terikat pada pancang kecil? Gajah sudah akan merasa dirinya tidak bisa bebas jika ada "sesuatu" yang mengikat kaki nya, padahal "sesuatu" itu bisa jadi hanya seutas tali kecil...Sebagai manusia kita mampu untuk berjuang, tidak menyerah begitu saja kepada apa yang kita alami.Karena itu, teruslah berusaha mencapai segala aspirasi positif yang ingin kita capai. Sakit memang, lelah memang,tapi jika kita sudah sampai di puncak, semua pengorbanan itu pasti akan terbayar. Pada dasarnya, kehidupan kita akan lebih baik kalau kita hidup dengan cara hidup pilihan kita sendiri, bukan dengan cara yang di pilihkan orang lain untuk kita

Thursday, May 24, 2007

Berusahalah Untuk Selalu Menjadi Pihak Pertama


"Berusahalah untuk selalu menjadi pihak pertama yang menunjukkan cinta dan perhatian Anda kepada orang lain. Jangan menuntut perhatian dan cinta mereka untuk diperlihatkan lebih dahulu. Itulah satu-satunya cara yang saya ketahui untuk ke luar dari kegelapan hidup", demikian dikatakan Ny.Eunice Chew (52 tahun), salah satu finalis pemilihan ibu teladan se-Singapura tahun ini.

Diadopsi oleh pasangan Teochew yang kaya-raya dan sudah memiliki seorang putra tapi masih ingin punya anak perempuan, maka masa kanak-kanak Chew dipenuhi kemewahan. Liburan keluarga sering dilewatkan di luar negeri.

Pasangan Teochew menyayangi putrinya dengan cara mereka. Menurut cerita Chew, mereka adalah produk pendidikan kuno yang tidak mengenal pelukan kepada anak-anak untuk meyakinkan mereka dari waktu ke waktu bahwa orangtua menyayangi anak-anak.

Akibatnya, Chew tumbuh menjadi wanita yang haus kasih sayang. Ia menikah pada usia 17 tahun dengan seorang pegawai transportasi yang bangkrut. Dari pria itu diharapkannya akan datang kasih sayang yang dicarinya.

Ternyata ia menikah dengan pria yang suka menyiksa istri. Perkawinan itu bertahan lima tahun, dikaruniai dua anak. Tak lama setelah bercerai, ayah angkat Chew wafat karena sakit. Pembagian warisan menimbulkan pertikaian di dalam keluarga besar Teochew. Akhirnya Chew ternyata tidak kebagian apa-apa selain kewajiban mengurusi ibu angkatnya yang sudah buta dan lumpuh. Chew menjual susu coklat Milo untuk menyambung hidupnya.

"Ini pengalaman pertama saya harus bekerja mencari uang. Setiap malam saya menangis karena tidak mengerti berbisnis. Apa yang harus dikatakan dan bagaimana mengatakannya?," kata Chew dalam wawancara kepada harian Singapura The Straits Times.

Ia bertahan dua tahun di pekerjaan itu. "Bagaimanapun susahnya saya mendapatkan uang, saya selalu memastikan bahwa ibu mendapat ayam goreng dan ikan setiap hari. Dia memang buta dan lumpuh, tetapi dia membantu saya mengurus anak-anak sehingga saya bisa bekerja mencari uang," katanya.

Ia kemudian ganti pekerjaan, menjadi koki sebuah toko makanan. Sekitar dua tahun kemudian ganti lagi menjadi penjual pakaian. Setiap hari ia membopong empat kantong penuh berisi baju untuk dijual. Tentu saja dengan menumpang kendaraan umum.

Pada waktu bersamaan, ia menambah pekerjaannya dengan dua hal lain, yaitu menjadi makelar rumah dan mobil bekas, serta memanfaatkan bakatnya di bidang seni. Setiap malam Chew mendesain beberapa pola kain untuk sebuah perusahaan garmen di Jepang. Lumayan pendapatannya. Tapi akhir 1970-an, pasar retail tekstil melemah, Chew beralih menjadi pelayan restoran.

Beberapa lama kemudian meningkat jadi pimpinan pelayan dan kemudian menjadi manajer untuk bidang seni.

"Ketika itu saya mulai sering terbang ke luar negeri untuk bernegosiasi dengan artis-artis terkenal agar mereka tampil di restoran saya. Sementara itu, saya tetap meneruskan pekerjaan sambilan yang dulu, yaitu menjual rumah dan mobil, baik yang baru maupun bekas pakai."

Chew kemudian berhasil mengumpulkan uang cukup banyak untuk mendirikan bisnis sendiri di bidang perlengkapan mode, tetapi dua asistennya kemudian membawa pergi semua tabungannya.

"Ketika itu saya sedang sangat membutuhkan uang karena ibu berkali-kali masuk-ke luar rumah sakit. Hidup saya yang tadinya sudah enak, harus mulai dibangun lagi dari nol. Betapa bodohnya saya mempercayai mereka dengan uang sedemikian banyak," kata Chew.

Sempat terlintas pikiran untuk bunuh diri, tetapi bagaimana nasib anak-anak kelak? "Saya bersyukur memiliki teman-teman yang memberi dukungan moral dan bahkan meminjamkan uang. Atas bantuan mereka, saya berhasil melewati kesulitan."

Chew sekarang memiliki penghasilan besar dari merawat orang-orang Indonesia yang berduit, yang sedang dirawat di Singapura karena baru melahirkan atau sedang terbaring di rumah sakit. Ia juga menjalankan bisnis yang amat menguntungkan juga, yaitu membuat dan menjual tonik tradisional Tiongkok.

Chew menambah kegiatannya dengan menjadi konsultan tanpa bayaran bagi kaum istri yang menderita karena suaminya tidak setia, dan bagi orang-orang yang lama menderita sakit, atau berpenyakit tak tersembuhkan.

"Hidup telah mengajarkan saya bahwa selalu ada jalan ke luar dari setiap kesulitan. Pasti ada solusi yang masuk akal," kata Chew. "Yang Anda butuhkan adalah waktu untuk menenangkan diri, mengatasi gejolak emosi, dan melangkah setapak demi setapak."

Ia menyarankan kepada mereka yang menghadapi kesulitan, agar menulis daftar kesulitan itu pada sehelai kertas. Kemudian bacalah apa yang ditulis itu, dan tanyakan pada diri sendiri, 'Apa hal terkecil yang dapat saya lakukan hari ini untuk mengatasi kesulitan itu?' "Gelindingkan batu-batu karang yang kecil dari hidup Anda, sampai akhirnya Anda punya kekuatan untuk mendorong batu karang yang besar.

Saya melihat orang-orang yang sakit berusaha keras untuk bisa hidup. Dunia ini berubah terus sepanjang waktu. Anda tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Maka jangan sakiti hati siapapun. Selalu pertimbangkan perasaan orang lain terlebih dahulu, bukan perasaan Anda sendiri.

Kita memang cenderung untuk melihat sisi buruk orang lain, walaupun karakter mereka mungkin 99 persennya baik, hanya satu persen yang buruk. Mengapa tidak bersabar dengan memberikan mereka waktu untuk menunjukkan yang 99 persen itu?

Di pagi hari Anda dapat membuatkan minuman panas untuk keluarga Anda dan duduk menemani mereka beberapa menit, kemudian memeluk dan menciumi mereka sebelum semuanya pergi ke tempat kerja atau ke sekolah. Sekitar 10 menit sebelum tidur malam setiap hari, berkumpullah bersama keluarga untuk berbagi cerita mengenai peristiwa sepanjang hari tadi," demikian Ny. Chew.

Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)