Impian (dream),
“… you may say I am a dreamer, but I am not the only one, I hope some day you will join us, in the world will be as one..”
(imagine – John Lennon)
Impian adalah suatu pengharapan, semua orang “hidup” selalu punya impian, walau kadang cuma selintas, ataupun kalau anda “merasa” tidak punya impian, segera pergilah ke dokter jantung untuk memeriksakan diri anda, apakah masih ada detak jantung di tubuh anda.
Masalahnya sekarang, apakah anda ingin mewujudkan impian itu atau anda akan menghancurkannya. Karena anda pesimis untuk melakukannya.
Untuk edisi bulan ini, kalau ada yang merasa kurang berkenan saya minta maaf, karena ini adalah impian, sesuatu yang hanya bisa dibatasi oleh tingginya langit.
Di tingkat empat kota Semarang (mengenai keaneka ragaman kota ini saya pernah menulis di edisi January-2006 “Pledoi untuk Kotaku”) ada kawasan yang sangat nyaman, yang bagi saya paling nyaman, Banyumanik. Suatu tempat yang membesarkan saya dengan keindahan keanekaragamannya.
Sekolah dasar saya di SD Antonius II, adalah sekolah Katolik yang didirikan di kawasan sebuah gereja. Sebuah gereja kecil waktu itu, walau sekarang sudah berdiri megah, di daerah Banyumanik yang saat itu sedang berkembang. Satu hal yang menarik dari gereja itu, bukan dari bangunannya, tapi dari pemimpin gereja itu sendiri, Kardinal Darmoyuwono (maaf kalau salah spelling), atau kami sering memanggilnya Romo Kardinal.
Kardinal, sepanjang yang saya tahu, adalah suatu jabatan tinggi bagi seorang pemimpin gereja itu sendiri. Tapi yang menarik dari Romo Kardinal, adalah figure yang sangat sederhana, memilih tinggal di gereja kecil dikawasan pinggiran kota Semarang, saat itu, bukan di Jakarta misalnya.
Pribadi yang menyenangkan, bahkan bagi saya yang masih sekolah dasar waktu itu. Kebiasaan beliau yang suka berjalan – jalan menyapa ramah semua orang, tanpa memandang itu umat manapun, menjadi pelajaran berharga bagi pola pikir anak seperti saya.
Orang tua saya yang Muslim, bahkan tak jarang mempersilahkan beliau singgah kerumah kami. Setiap beliau singgah aku selalu duduk di pangkuan bapak untuk sekedar mendengarkan apa yang mereka bincangkan. Kedua orang yang saya hormati itu tidak pernah sekalipun membahas kebenaran agama yang mereka yakini, tetapi membahas budi pekerti dari tingkah laku dengan penggambaran cerita wayang ataupun sejarah kerajaan jawa itu sendiri.
Ada suatu session pertemuan yang membuat saya terkesan, karena keingintahuan saya yang besar.
Selepas Maghrib, masih lengkap dengan kopiah dan sarung, bapak mempersilahkan Romo Kardinal untuk mampir ke rumah, karena kebetulan beliau sedang melewati depan rumah kami.
Seperti biasa saya segera gabung, dan keingintahuan karena melihat hal yang “aneh” di depanku, Romo dengan baju kepastorannya, sedang bapakku masih lengkap dengan kopiah dan sarung, saya secara tiba-tiba bertanya sesuatu hal yang sempat membuat bapak terkejut.
“Romo, kenapa Romo pergi ke gereja, sedang kami ke masjid”. Bapak sempat menyenggol aku seakan ingin menegur.
Tapi, dengan senyum ramahnya, Romo Kardinal memberi jawaban yang sangat berkesan bagi seorang anak kecil seperti saya waktu itu.
“Kamu kalau pergi ke pasar Johar lewat mana,” tanya beliau.
“Saya selalu ikut bapak lewat Tugu Muda, dan saya suka lewat situ,” jawab saya.
“Jadi karena Bapak kamu lewat jalan itu, kamu lewat juga jalan itu kalau mau ke pasar Johar dan kamu juga senang lewat situ,” kata Romo Kardinal. Saya mengangguk sambil tersenyum.
“Kalau Romo lebih senang lewat Peterongan, tapi yang pasti tujuannya sama, sama – sama ke Pasar Johar. Jadi kalau Bapak kamu ke masjid, atau Romo ke gereja, itu hanya jalannya saja yang beda, tapi tujuannya sama, Tuhan, bagaimana sudah paham”.
Bapak yang segera menjawab,” matur nuwun sanget (terima kasih banyak) Romo”.
Dengan senyum ramahnya, Romo berkata,”Manusia kan harus saling mengingatkan, bahwa jalan hidup kita masing – masing itu sudah ditentukan oleh Tuhan, urip kuwi mung sadermo nglakoni (hidup itu adalah hanya darma/kewajiban yang harus dijalankan)”.
Setelah saya besar, bapak juga selalu menekankan pada kami,
Janganlah kalian terus berpikir tentang benarnya kebenaran jalan hidup kalian, takutnya pikiran itu akan membuat kalian menjadi menyalahkan kebenaran jalan hidup orang lain. Yang bijaksana adalah, tingkatkan kualitas kehidupan kita dalam mengikuti kebenaran jalan hidup kita, maka kita akan bersyukur yang sebesar-besarnya atas ”perbedaan-perbedaan” yang Tuhan ciptakan. Perbedaan-perbedaan yang akan membuat kita kaya jasmani dan rohani.
Bahkan pendiri bangsa ini sendiri, para founding father (karena kebanyakan laki-laki), sudah berpikir ke arah sana,
Kenapa Sukarno tidak ingin mendirikan negara Jawa, Hatta dan Syahrir dengan Negara Sumateranya, atau Ratulangi misalnya dengan negara Celebesnya. Karena mereka paham bahwa perbedaan yang nampak di mata di bumi nusantara, adalah suatu kekayaan yang tidak ternilai karena begitu besarnya.
Bagi anda penyuka sejarah, tentu masih ingat Piagam Jakarta, embrio dari UUD 1945 itu sendiri. Ada kata-kata ”menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya....”, yang kemudian di hapus dari UUD 1945, dan lebih hebatnya yang minta di hapus adalah Hatta seorang cendekiawan muslim besar, dengan alasan bahwa negara yang akan dibentuk ini adalah negara ”impian” semua manusia yang ada di dalamnya, bukan milik golongan tertentu saja.
Betapa akan menangisnya mereka, tapi saya berdoa mereka semua, tenang di alamnya sekarang, melihat kita sekarang ini.
Saya tidak pesimis, hanya mengungkap fakta, karena saya masih ingat kata – kata Hatta, ”negara ini akan menjadi negara yang jaya, ini bukan masalah ya atau tidak, tapi hanya masalah waktu”.
Betapa fitnah – fitnah besar dinegara ini selalu ditunggangi oleh alasan ”perbedaan”, betapa menunjukan kita belum dewasa dalam berbangsa dan beragama.
PRRI timbul karena adanya perbedaan Perwira Jakarta dan Non-Jakarta, akibatnya rakyat di Sumatera Timur dan Barat menderita perang saudara.
Gerakan 30 September (Sukarno bilang Gestok/Gerakan satu oktober) adalah fitnah yang kejam dengan ”perbedaan” ideologi sebagai alasannya, jutaan nyawa melayang karena ini. Atau yang di era modern sekarang ini, Pembunuhan masyarakat keturunan Tionghoa dalam kerusuhan Mei 1998, Kerusuhan Ambon, hanya karena ulah segelintir orang yang bertikai, ”perbedaan” keyakinan dijadikan alasan untuk mencari dukungan, ribuan orang menjadi korban. Poso juga mengalami hal yang sama, bahkan peristiwa Sampit, membuat kita menangis, melihat mayat – mayat balita tanpa kepala berserakan begitu saja.
Tanpa pesimis juga, sebenarnya negara ini telah menciptakan generasi pendendam. Aceh, Poso, Ambon, bisa meletus 20 tahun lagi kalau penanganan pendidikan budi pekerti tidak di seriusi. Tapi kembali kita ingat ini tugas kita bersama, tekankan budi perkerti untuk menghargai suatu perbedaan, minimal pada diri anda sendiri, maka mudah – mudahan anak – anak anda akan mengikutinya.
Saya masih ingat ketika beranjak remaja, ketika saya meragu, apakah saya harus ikut bapak selaku ketua RW keliling kampung mengunjungi warga kristiani, yang saat itu merayakan hari natal. Saya tidak jadi ikut, karena ada beberapa pemahaman yang saya terima sebelumnya.
Malamnya, bapak dan ibu memanggil saya sendiri, dan tiba – tiba memberi pertanyaan, ” Kenapa kamu Muslim?” sebuah pertanyaan sederhana yang saya tidak bisa menjawabnya. Setelah melihat aku terdiam, beliau berkata ” karena orang tuamu Muslim, benarkan”. Aku mengangguk.
Diteruskan dengan,“Kamu senang menjadi Muslim“, aku mengangguk lagi,“ Kalau begitu bersyukurlah, jadilah seorang muslim yang berkualitas, karena sikap kamu tadi bukan hanya menyalahkan suatu agama tertentu, tapi kamu sudah menyalahkan Tuhan, seakan – akan bahwa ciptaannya itu tidak berguna sama sekali, coba pahami dengan hati bersih, mengapa Tuhan menciptakan semua ini dengan beraneka ragam, itu untuk kebahagiaan manusia sendiri, supaya mereka menjadi kaya batinnya. Di mata Tuhan, kualitas manusia waktu dia hidup yang Beliau nilai“.
Saya cuma terdiam, kata – kata itu begitu terserap di hati, bagaimana saya bisa meningkatkan kualitas kebenaran yang saya ikuti, kalau saya cuma berusaha menyalahkan kebenaran orang lain. Betapa tanpa kualitas kehidupan saya di mata Tuhan.
Mengejar suatu impian selalu penuh hambatan, bahkan impian perdamaian John Lennon terhenti oleh peluru Mark David Chapman,
John Lennon tidak sendirian, Pemimpi – pemimpi perdamaian lainnya banyak yang harus mengorbankan nyawa untuk impiannya, JF Kennedy harus mati diujung peluru, setelah dia menampakan ketidak sukaan terhadap perang dingin antara Amerika dan Uni Sovyet.
Mahatma Gandhi, seorang genius dalam impian atas perdamaian, harus meninggal karena tertembus peluru, dan hebatnya dia minta supaya penembaknya diampuni.
Atau Sukarno, bapak bangsa kita yang bermimpi Nasakom, Nasionalis Agama dan Komunis beriringan, harus rela menderita sebelum meninggal dunia.
Bahkan seorang Yahudi seperti Rabin, ditembak mati karena ide atas perdamaian di timur tengah.
Tapi terlepas dari itu semua, saya pribadi juga punya impian, impian tentang dunia yang lebih indah. Walau mungkin saya harus di cemooh, atau orang menganggap saya orang yang tidak paham agama misalnya. Tapi inilah impian saya, yang bisa membuat saya merasa dekat dengan Tuhan.
Seperti impian saya akan dunia yang lebih baik,
Yang memandang.... putih,kuning,hitam,coklat adalah sebuah warna, ... bukan warna kulit
Yang memandang.... Arab, yahudi, negro, hispanik, aria, melayu adalah sebuah seni keanekaragaman,... bukan sebagai bangsa dengan keunggulan
Yang memandang.... Asia, Amerika, Eropa, Afrika, Australia adalah pelajaran geografi,... bukan benua yang memisahkan kita
Yang memandang.... Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Tao adalah jalan alternatif ke Surga,... bukan sebagai Agama yang lebih benar dari yang lain.
Saya jadi inget sama Ernesto Guevara, atau terkenal dengan sebutan "Che" Guevara,
Jadilah orang yang "romantis" kata si Bung yang satu ini, karena orang yang "romantis" adalah orang yang penuh dengan segala toleransi terhadap segala perbedaan di dunia ini, dia akan menyerahkan segala jiwa raganya untuk dunia yang lebih baik, dunia yang menghargai perbedaan satu sama lain.
Maka jadilah orang yang "romantis", karena walau jasadmu sudah hilang dimakan tanah, orang masih akan selalu terkenang akan jiwamu.
Mari kita tebarkan semangat cinta kasih, toleransi, hormat menghormati, hentikan segala pertikaian yang akan merugikan manusia.
Jangan membuat Tuhan merasa ,“malu“ dihadapan setan, karena betapa kita terus mengikuti keserakahan Setan atas penindasan sesama kita manusia.
Ajarkan pada anak-anak anda, karena mereka pemilik dunia ini, impian tentang dunia yang lebih baik, mudah – mudahan bisa terwujud, bukan cuma di dunia impian.
Tuesday, May 29, 2007
Setengah jam menjelang adzan Dzuhur
Dari kejauhan mata saya menangkap sosok tua dengan pikulan yang membebani pundaknya. Dari bentuk yang dipikulnya, saya hapal betul apa yang dijajakannya, penganan langka yang menjadi kegemaran saya di masa kecil. Segera saya hampiri dan benarlah, yang dijajakannya adalah kue rangi, terbuat dari sagu dan kelapa yang setelah dimasak dibumbui gula merah yang dikentalkan. Nikmat, pasti.
Satu yang paling khas dari penganan ini selain bentuknya yang kecil-kecil dan murah, kebanyakan penjualnya adalah mereka yang sudah berusia lanjut. "Tiga puluh tahun lebih bapak jualan kue rangi," akunya kepada saya yang tidak bisa menyembunyikan kegembiraan bisa menemukan jajanan masa kecil ini. Sebab, sudah sangat langka penjual kue rangi ini, kalau pun ada sangat sedikit yang masih menggunakan pikulan dan pemanggang yang menggunakan bara arang sebagai pemanasnya.
Tiga jam setengah berkeliling, akunya, baru saya lah yang menghentikannya untuk membeli kuenya. "Kenapa bapak tidak mangkal saja agar tidak terlalu lelah berkeliling," iba saya sambil menaksir usianya yang sudah di atas angka enam puluh. "Saya nggak pernah tahu dimana Allah menurunkan rezeki, jadi saya nggak bisa menunggu di satu tempat. Dan rezeki itu memang bukan ditunggu, harus dijemput. Karena rezeki nggak ada yang nganterin," jawabnya panjang.
Ini yang saya maksud dengan keuntungan dari obrolan-obrolan ringan yang bagi sebagian orang tidak menganggap penting berbicara dengan penjual kue murah seperti Pak Murad ini. Kadang dari mereka lah pelajaran-pelajaran penting bisa didapat. Beruntung saya bisa berbincang dengannya dan karenanya ia mengeluarkan petuah yang saya tidak memintanya, tapi itu sungguh penuh makna.
"Setiap langkah kita dalam mencari rezeki ada yang menghitungnya, dan jika kita ikhlas dengan semua langkah yang kadang tak menghasilkan apa pun itu, cuma ada dua kemungkinan. Kalau tidak Allah mempertemukan kita dengan rezeki di depan sana, biarkan ia menjadi tabungan amal kita nanti," lagi sebaris kalimat meluncur deras meski parau terdengar suaranya.
"Tapi kan bapak kan sudah tua untuk terus menerus memikul dagangan ini?" pancing saya, agar keluar terus untaian hikmahnya. Benarlah, ia memperlihatkan bekas hitam di pundaknya yang mengeras, "Pundak ini, juga tapak kaki yang pecah-pecah ini akan menjadi saksi di akhirat
kelak bahwa saya tak pernah menyerah menjemput rezeki."
Sudah semestinya isteri dan anak-anak yang dihidupinya dengan berjualan kue rangi berbangga memiliki lelaki penjemput rezeki seperti Pak Murad. Tidak semua orang memiliki bekas dari sebuah pengorbanan menjalani kerasnya tantangan dalam menjemput rezeki. Tidak semua orang harus melalui jalan panjang, panas terik, deras hujan dan bahkan tajamnya kerikil untuk membuka harapan esok pagi. Tidak semua orang harus teramat sering menggigit jari menghitung hasil yang kadang tak sebanding dengan deras peluh yang berkali-kali dibasuhnya sepanjang jalan. Dan Pak Murad termasuk bagian dari yang tidak semua orang itu, yang Allah takkan salah menjumlah semua langkahnya, tak mungkin terlupa menampung setiap tetes peluhnya dan kemudian mengumpulkannya sebagai tabungan amal kebaikan.
***
Satu yang paling khas dari penganan ini selain bentuknya yang kecil-kecil dan murah, kebanyakan penjualnya adalah mereka yang sudah berusia lanjut. "Tiga puluh tahun lebih bapak jualan kue rangi," akunya kepada saya yang tidak bisa menyembunyikan kegembiraan bisa menemukan jajanan masa kecil ini. Sebab, sudah sangat langka penjual kue rangi ini, kalau pun ada sangat sedikit yang masih menggunakan pikulan dan pemanggang yang menggunakan bara arang sebagai pemanasnya.
Tiga jam setengah berkeliling, akunya, baru saya lah yang menghentikannya untuk membeli kuenya. "Kenapa bapak tidak mangkal saja agar tidak terlalu lelah berkeliling," iba saya sambil menaksir usianya yang sudah di atas angka enam puluh. "Saya nggak pernah tahu dimana Allah menurunkan rezeki, jadi saya nggak bisa menunggu di satu tempat. Dan rezeki itu memang bukan ditunggu, harus dijemput. Karena rezeki nggak ada yang nganterin," jawabnya panjang.
Ini yang saya maksud dengan keuntungan dari obrolan-obrolan ringan yang bagi sebagian orang tidak menganggap penting berbicara dengan penjual kue murah seperti Pak Murad ini. Kadang dari mereka lah pelajaran-pelajaran penting bisa didapat. Beruntung saya bisa berbincang dengannya dan karenanya ia mengeluarkan petuah yang saya tidak memintanya, tapi itu sungguh penuh makna.
"Setiap langkah kita dalam mencari rezeki ada yang menghitungnya, dan jika kita ikhlas dengan semua langkah yang kadang tak menghasilkan apa pun itu, cuma ada dua kemungkinan. Kalau tidak Allah mempertemukan kita dengan rezeki di depan sana, biarkan ia menjadi tabungan amal kita nanti," lagi sebaris kalimat meluncur deras meski parau terdengar suaranya.
"Tapi kan bapak kan sudah tua untuk terus menerus memikul dagangan ini?" pancing saya, agar keluar terus untaian hikmahnya. Benarlah, ia memperlihatkan bekas hitam di pundaknya yang mengeras, "Pundak ini, juga tapak kaki yang pecah-pecah ini akan menjadi saksi di akhirat
kelak bahwa saya tak pernah menyerah menjemput rezeki."
Sudah semestinya isteri dan anak-anak yang dihidupinya dengan berjualan kue rangi berbangga memiliki lelaki penjemput rezeki seperti Pak Murad. Tidak semua orang memiliki bekas dari sebuah pengorbanan menjalani kerasnya tantangan dalam menjemput rezeki. Tidak semua orang harus melalui jalan panjang, panas terik, deras hujan dan bahkan tajamnya kerikil untuk membuka harapan esok pagi. Tidak semua orang harus teramat sering menggigit jari menghitung hasil yang kadang tak sebanding dengan deras peluh yang berkali-kali dibasuhnya sepanjang jalan. Dan Pak Murad termasuk bagian dari yang tidak semua orang itu, yang Allah takkan salah menjumlah semua langkahnya, tak mungkin terlupa menampung setiap tetes peluhnya dan kemudian mengumpulkannya sebagai tabungan amal kebaikan.
***
Subscribe to:
Comments (Atom)
